
Herdaru Purnomo - detikFinance
Foto: dok.detikFinance
Investor dari dalam dan luar negeri yang semula "wait and see ", lanjut Tony, akan mantap untuk segera mengeksekusi proyeknya. "Dan masa penantian itu segera dapat diakhiri dalam tempo yang lebih cepat, ini kuncinya. Tahun Pemilu (2009) terbukti bukanlah "the year of living dangerously " seperti yang diprediksikan," tukasnya.
Demikian dikatakan Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Tony Prasetiantono ketika dihubungi detikFinance di Jakarta, Sabtu (11/07/2009).
Ia mengatakan dibandingkan dengan negara-negara dikawasan yang perekonomiannya kontraktif, Indonesia dipandang sebagai "investment venue " yang sangat atraktif.
"Aliran modal global akan segera masuk kembali ke RI setelah sebelumnya terjadi repatriasi ke Amerika dan aliran modal tersebut akan menaikkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kurs rupiah," tuturnya.
Lebih lanjut Tony mengatakan, aliran modal tersebut akan membantu sektor perbankan untuk penurunan suku bunga bank. "Ini akan membuat likuiditas lebih longgar sehingga perbankan memiliki kesempatan untuk menurunkan suku bunganya secara agresif. Sebelumnya perbankan memang masih enggan menurunkan suku bunga karena khawatir akan ditinggal pergi deposannya akibat ketatnya likuiditas," paparnya.
Pada semester II-2009, Tony memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bisa didorong sedikit di atas 4%, meski masih di bawah 4,5%. "Apalagi jika nanti SBY bisa membentuk kabinet yang bagus dan profesional, tidak seperti kabinet sekarang yang masih terlalu banyak kompromi politiknya," tuturnya. (dru/dnl)
Langganan:
Postingan (Atom)
